Minggu, 21 April 2013
Rabu, 03 April 2013
hakikat pendidikan
oleh : heru gernandes
Apa sebenarnya makna
dari sebuah pendidikan itu karna realita yang saya lihat tentang pendidikan di perguruan
tinggi ini adalah bahwa saya bisa ibaratkan perguruan tinggi ini adalah sebuah
mesin/pabrik yang memproduksi barang/jasa yang kelak akan diperjual belikan di
pasar, karna motivasi kebanyakan mahasiswa dalam mengenyam pendidikan adalah
untuk pemenuhan kebutuhan kerja dan dibuktikan juga dengan slogan-slogan
lembaga pendidikan yang ada disekitar kita misalnya ‘ingin cepat kerja kuliah disini saja’ ‘menyiapkan pekerja profesional’ dll. Serta banyak saya lihat bahwa
program study yang laku di pasar juga banyak diminati oleh mahasiswa, seperti
pendidikan kesehatan seperti dokter, ekonomi, teknik dan hukum. Sedangkan program
studi yang tidak laku dipasaran juga minim mahasiswa. Lembaga pendidikan juga
telah mempermudah mahasiswa nya dengan adanya kuliah sabtu-minggu untuk
mendapatkan sebuah gelar sarjana/master. Jadi tidak salah jika saya menggatakan bahwa
lembaga/institusi pendidikan saat ini hanyalah sebuah mesin yang memproduksi
barang/jasa yang akan diperjual belikan di pasar. Lalu kemana hakikat/ makna
sebenarnya dari sebuah pendidikan? Ketika institusi pendidikan sama halnya
dengan sebuah mesin yang memproduksi tenaga kerja. Ketika itu juga orang-orang
lebih mementingkan hasil yang tertulis pada selembar kertas (ijazah) yang akan
dijual untuk mencari pekerjaan. Apakah bisa keterampilan, kepandaian,
kepintaran seseorang di nilai hanya dengan selembar kertas ijazah?
Pendidikan sebenarnya
mengandung makna yang lebih dari sekedar nilai-nilai di dalam kertas, pada
hakikatnya pendidikan merupakan sebuah proses individu mengenali realita yang
ada disekitarnya. Pendidikan adalah sebuah proses belajar, untuk mengenali,
menahami dan mencari solusi dari masalah
yang ada. Dan proses belajar ini akan membuat perubahan individu itu sendiri
seperti perubahan sikap, prilaku, cara pikir dan bertindak yang lebih penting
adalah perubahan dalam memaknai kehidupan yang ada disekitarnya (nanang
martono:halm 129). Jadi seharusnya ijazah/nilai bukanlah menjadi tujuan sebuah pendidikan, tapi pada prosesnya
kalaupun ada legitimasi itu harus dilihat berdasarkan proses perkembangan
individu itu sendiri.
Selasa, 02 April 2013
HAJATAN UJIAN NASIONAL
oleh: heru gernandes
Proses
belajar selama 3 tahun harus dipertaruhkan dalam waktu 3-4 hari yang biasa
disebut UJIAN NASIONAL (UN). Dengan dalih untuk meningkatkan kualitas
pendidikan dinegara ini pemerintah membuat sebuah Ujian Skala Nasional untuk
mengguji apa yang telah dipelajari selama 3 tahun oleh siswa/siswi Sekolah baik
menengah (SMP) maupun Atas (SMA). UN
menjadi sebuah indikator untuk menggukur kecerdasan seseorang dalam waktu 3
hari saja, apakah siswa itu mampu untuk melewati atau tidak, yang berhasil akan
lolos dan mendapat kan ijazah paket A dan bisa dikatakan pintar sedangkan
siswa/i yang tidak lolos UN bisa menggikuti paket ujian untuk mendapatkan
ijazah C dan apapun itu siswa/i yang tidak lolos UN dikatakan bodoh. Sebenarnya
siapa yang bodoh dalam hal ini? Proses belajar menggajar dalam waktu 3 tahun
diukur dalam waktu 3 hari dan standar soal ujian diberlakukan sama disetiap
daerah di indonesia baik itu daerah maju maupun daerah tertinggal dan terluar
dan ketika itu juga pemerintah juga telah membeda-bedakan sekolah-sekolah
dengan standar-standar tertentu baik nasioanal, internasional, dan akreditasi
sekolah baik A maupun B dan ada sekolah
yang baru terakreditasi. Siapa yang bodoh sekarang ketika distribusi sarana dan
prasana disekolah berbeda-beda lihat saja fasilitas sekolah-sekolah dikota
dengan di desa apakah sama ? serta lihat sertifikasi guru di sekolah yang
tergolong daerah mapan dengan daerah yang berada di desa-desa terpencil apakah
sama? Namun ketika hal itu terjadi pemerintah menyamaratakan soal UN.
Bulan
april sampai dengan mei adalah bulan penuh perjuangan bagi siswa/i diseluruh
pelosok tanah air, pasalnya dibulan inilah pemerintah melaksanakan hajatan yang
biasa disebut Ujian Nasional (UN). Sangat mewah, karena hajatan ini berhasil
menguras dana APBN ratusan bahkan milyaran rupiah dalam waktu 3 hari saja. Penuh
perjuangan, itulah yang bisa kita katakan kepada generasi muda indonesia yang
duduk dibangku sekolah, hanya untuk mendapatkan sebuah ijazah sekolah mereka
harus diuji dalam waktu 3 hari padahal mereka sudah sekolah 3 tahun lamnya. Hajatan
besar pemerintah ini (UN) selalu menuai luka dan kepedihan tidak saja bagi
siwa/i namun juga orang tua yang anaknya tidak berhasil mendapatkan nilai yang
telah ditetapkan PEMERINTAH PUSAT melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia. sunguh ironis.
Ujian
Nasional menjadi momok yang sangat menakutkan bagi para siswa/i sekolah
menangah, ketakutan ini juga melanda sekolah-sekolah dimana beban yang dipikul
oleh sekolah juga sangat berat. Namun ketika generasi muda kita mengalami
ketakutan itu ada segelintir orang-orang yang malah mendapatkan keuntungan
diantaranya Lembaga Bimbingan Belajar yang menawarkan jasa untuk meluluskan
peserta bimbingannya dan bahkan ada lembaga bimbingan belajar yang berani
menjamin siswa bimbingannya lolos 100% UN, dan bahkan ada yang lebih fatal
lagi, dimana sering kali praktik semacam ini justru dilakukan oleh guru-guru
disekolah demi mendapatkan honor tambahan dengan membuka les. Ketika hal itu
terjadi muncullah ketimpangan sosial antara anak kelas menengah keatas dengan
anak kelas menengah ke bawah, dimana anak-anak orang kelas menengah keatas
mampu untuk membayar bimbingan belajar yang sudah bersantar dan berkelas serta
menikmati les-les di tempat-tempat favorit namun bagaimana dengan anak-anak
yang tergolong dari keluarga menengah kebawah dimana untuk makan keluarga saja
mereka terbilang pas-pasan apalagi harus mengeluarkan biaya tambahan untuk les.
Apakah pemerintah peduli dengan hal itu? Siapa yang akan memberikan pelajaran
tambahan kepada mereka, apalagi mata pelajaran yang di UN kan?
Pemerintah
selalu berdalih UN adalah untuk dapat meningkatkan kualitas pendidikan di
seluruh pelosok tanah air, namun pemerintah tidak sadar apa yang telah mereka
perbuat selama ini, UN malah menjadi ladang uang bagi sebagian orang dan mereka yang lulus
UN belum tentu benar-benar pintar dan bahkan ada sekolah-sekolah di indonesia yang membantu
siswa/i nya untuk lulus UN karena jika hasil UN siswa/i nya baik maka nama
sekolah mereka akan naik dan guru pun juga akan bangga dengan hal itu. Sungguh menyedihkan
nasip sistem pendidikan di indonesia, sekolah malah main kucing-kucingan untuk bisa mengejar target pemerintah, tidak sampai disitu saja ketika lulus
siswa/i akan mengikuti ujian kembali untuk mendapatkan pendidikan diperguruan
tinggi negeri fevorit, namun bagi siswa/i yang tidak lulus UN akan mendapatkan tekanan batin yang sangat hebat,
dimana dia merasa malu dan bersalah kepada kedua orang tuanya dan bahkan ada
siswa/i yang tidak lolos UN nekat untuk bunuh diri ketika mendapati namanya
tidak ada di dalam daftar orang-orang yang lulus UN. Jadi saya katakan kepada
pembaca semua PENDIDIKAN MILIK SIAPA DAN MENJADI HAK SIAPA DI NEGERI KU
TERCINTA!!!!
referensi: Martono, Nanang.2010. Pendidikan Bukan Tanpa Masalah.Yogyakarta:Gave Media
Langganan:
Komentar (Atom)