Rabu, 03 April 2013

hakikat pendidikan


oleh : heru gernandes 

Apa sebenarnya makna dari sebuah pendidikan itu karna realita yang saya lihat tentang pendidikan di perguruan tinggi ini adalah bahwa saya bisa ibaratkan perguruan tinggi ini adalah sebuah mesin/pabrik yang memproduksi barang/jasa yang kelak akan diperjual belikan di pasar, karna motivasi kebanyakan mahasiswa dalam mengenyam pendidikan adalah untuk pemenuhan kebutuhan kerja dan dibuktikan juga dengan slogan-slogan lembaga pendidikan yang ada disekitar kita misalnya ‘ingin cepat kerja kuliah disini saja’menyiapkan pekerja profesional’ dll. Serta banyak saya lihat bahwa program study yang laku di pasar juga banyak diminati oleh mahasiswa, seperti pendidikan kesehatan seperti dokter, ekonomi, teknik dan hukum. Sedangkan program studi yang tidak laku dipasaran juga minim mahasiswa. Lembaga pendidikan juga telah mempermudah mahasiswa nya dengan adanya kuliah sabtu-minggu untuk mendapatkan sebuah gelar sarjana/master.  Jadi tidak salah jika saya menggatakan bahwa lembaga/institusi pendidikan saat ini hanyalah sebuah mesin yang memproduksi barang/jasa yang akan diperjual belikan di pasar. Lalu kemana hakikat/ makna sebenarnya dari sebuah pendidikan? Ketika institusi pendidikan sama halnya dengan sebuah mesin yang memproduksi tenaga kerja. Ketika itu juga orang-orang lebih mementingkan hasil yang tertulis pada selembar kertas (ijazah) yang akan dijual untuk mencari pekerjaan. Apakah bisa keterampilan, kepandaian, kepintaran seseorang di nilai hanya dengan selembar kertas ijazah?
Pendidikan sebenarnya mengandung makna yang lebih dari sekedar nilai-nilai di dalam kertas, pada hakikatnya pendidikan merupakan sebuah proses individu mengenali realita yang ada disekitarnya. Pendidikan adalah sebuah proses belajar, untuk mengenali, menahami dan mencari solusi dari  masalah yang ada. Dan proses belajar ini akan membuat perubahan individu itu sendiri seperti perubahan sikap, prilaku, cara pikir dan bertindak yang lebih penting adalah perubahan dalam memaknai kehidupan yang ada disekitarnya (nanang martono:halm 129). Jadi seharusnya ijazah/nilai bukanlah menjadi tujuan  sebuah pendidikan, tapi pada prosesnya kalaupun ada legitimasi itu harus dilihat berdasarkan proses perkembangan individu itu sendiri.  

Selasa, 02 April 2013

HAJATAN UJIAN NASIONAL

oleh: heru gernandes


Proses belajar selama 3 tahun harus dipertaruhkan dalam waktu 3-4 hari yang biasa disebut UJIAN NASIONAL (UN). Dengan dalih untuk meningkatkan kualitas pendidikan dinegara ini pemerintah membuat sebuah Ujian Skala Nasional untuk mengguji apa yang telah dipelajari selama 3 tahun oleh siswa/siswi Sekolah baik menengah (SMP) maupun Atas (SMA).  UN menjadi sebuah indikator untuk menggukur kecerdasan seseorang dalam waktu 3 hari saja, apakah siswa itu mampu untuk melewati atau tidak, yang berhasil akan lolos dan mendapat kan ijazah paket A dan bisa dikatakan pintar sedangkan siswa/i yang tidak lolos UN bisa menggikuti paket ujian untuk mendapatkan ijazah C dan apapun itu siswa/i yang tidak lolos UN dikatakan bodoh. Sebenarnya siapa yang bodoh dalam hal ini? Proses belajar menggajar dalam waktu 3 tahun diukur dalam waktu 3 hari dan standar soal ujian diberlakukan sama disetiap daerah di indonesia baik itu daerah maju maupun daerah tertinggal dan terluar dan ketika itu juga pemerintah juga telah membeda-bedakan sekolah-sekolah dengan standar-standar tertentu baik nasioanal, internasional, dan akreditasi sekolah  baik A maupun B dan ada sekolah yang baru terakreditasi. Siapa yang bodoh sekarang ketika distribusi sarana dan prasana disekolah berbeda-beda lihat saja fasilitas sekolah-sekolah dikota dengan di desa apakah sama ? serta lihat sertifikasi guru di sekolah yang tergolong daerah mapan dengan daerah yang berada di desa-desa terpencil apakah sama? Namun ketika hal itu terjadi pemerintah menyamaratakan soal UN.
  Bulan april sampai dengan mei adalah bulan penuh perjuangan bagi siswa/i diseluruh pelosok tanah air, pasalnya dibulan inilah pemerintah melaksanakan hajatan yang biasa disebut Ujian Nasional (UN). Sangat mewah, karena hajatan ini berhasil menguras dana APBN ratusan bahkan milyaran rupiah dalam waktu 3 hari saja. Penuh perjuangan, itulah yang bisa kita katakan kepada generasi muda indonesia yang duduk dibangku sekolah, hanya untuk mendapatkan sebuah ijazah sekolah mereka harus diuji dalam waktu 3 hari padahal mereka sudah sekolah 3 tahun lamnya. Hajatan besar pemerintah ini (UN) selalu menuai luka dan kepedihan tidak saja bagi siwa/i namun juga orang tua yang anaknya tidak berhasil mendapatkan nilai yang telah ditetapkan PEMERINTAH PUSAT melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. sunguh ironis.
Ujian Nasional menjadi momok yang sangat menakutkan bagi para siswa/i sekolah menangah, ketakutan ini juga melanda sekolah-sekolah dimana beban yang dipikul oleh sekolah juga sangat berat. Namun ketika generasi muda kita mengalami ketakutan itu ada segelintir orang-orang yang malah mendapatkan keuntungan diantaranya Lembaga Bimbingan Belajar yang menawarkan jasa untuk meluluskan peserta bimbingannya dan bahkan ada lembaga bimbingan belajar yang berani menjamin siswa bimbingannya lolos 100% UN, dan bahkan ada yang lebih fatal lagi, dimana sering kali praktik semacam ini justru dilakukan oleh guru-guru disekolah demi mendapatkan honor tambahan dengan membuka les. Ketika hal itu terjadi muncullah ketimpangan sosial antara anak kelas menengah keatas dengan anak kelas menengah ke bawah, dimana anak-anak orang kelas menengah keatas mampu untuk membayar bimbingan belajar yang sudah bersantar dan berkelas serta menikmati les-les di tempat-tempat favorit namun bagaimana dengan anak-anak yang tergolong dari keluarga menengah kebawah dimana untuk makan keluarga saja mereka terbilang pas-pasan apalagi harus mengeluarkan biaya tambahan untuk les. Apakah pemerintah peduli dengan hal itu? Siapa yang akan memberikan pelajaran tambahan kepada mereka, apalagi mata pelajaran yang di UN kan?
Pemerintah selalu berdalih UN adalah untuk dapat meningkatkan kualitas pendidikan di seluruh pelosok tanah air, namun pemerintah tidak sadar apa yang telah mereka perbuat selama ini, UN malah menjadi ladang uang bagi sebagian orang dan mereka yang lulus UN belum tentu benar-benar pintar dan bahkan ada sekolah-sekolah di indonesia yang membantu siswa/i nya untuk lulus UN karena jika hasil UN siswa/i nya baik maka nama sekolah mereka akan naik dan guru pun juga akan bangga dengan hal itu. Sungguh menyedihkan nasip sistem pendidikan di indonesia, sekolah malah main kucing-kucingan untuk bisa mengejar target pemerintah, tidak sampai disitu saja ketika lulus siswa/i akan mengikuti ujian kembali untuk mendapatkan pendidikan diperguruan tinggi negeri fevorit, namun bagi siswa/i yang tidak lulus UN akan  mendapatkan tekanan batin yang sangat hebat, dimana dia merasa malu dan bersalah kepada kedua orang tuanya dan bahkan ada siswa/i yang tidak lolos UN nekat untuk bunuh diri ketika mendapati namanya tidak ada di dalam daftar orang-orang yang lulus UN. Jadi saya katakan kepada pembaca semua PENDIDIKAN MILIK SIAPA DAN MENJADI HAK SIAPA DI NEGERI KU TERCINTA!!!!


referensi: Martono, Nanang.2010. Pendidikan Bukan Tanpa Masalah.Yogyakarta:Gave Media